ym pingbox


kilas berita

 

Marah-marah Bikin Serangan Jantung? Cetak halaman ini Kirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Ditulis oleh detik.com   
Rabu, 18 Agustus 2010

Jakarta, Orang yang gampang marah-marah biasanya paling rawan kena serangan jantung. Bagaimana prosesnya orang yang marah-marah hingga timbul serangan jantung?

Orang pemarah biasanya karena ada sesuatu yang tidak puas dengan keinginannya atau targetnya. Sesekali marah justru baik, tapi jika sedikit-sedikit ketidaksempurnaan sehari-hari ditanggapi dengan marah maka jantung bisa jadi taruhannya.

Orang yang sering marah akan membuat hipotalamus mengeluarkan hormon stres, baik yang adrenalin maupun non-adrenalin. Pengeluaran hormon ini akan memicu peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan penebalan dinding arteri dan pembentukan bekuan dalam pembuluh darah, serta aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).

Pembuluh darah terutama di arteri leher (carotid) yang mengalami penebalan akan menyempit sehingga memicu berbagai masalah jantung dan pembuluh darah.

Penebalan arteri semacam itu biasanya menyertai proses penuaan. Namun menurut penelitian di US National Institute of Aging, orang dengan sifat pemarah cenderung untuk mengalaminya di usia lebih muda.

Peningkatan risiko yang dialami cukup signifikan, yakni mencapai 40 persen dibandingkan orang dengan kepribadian yang menyenangkan. Angka itu didapat setelah disesuaikan dengan faktor risiko yang lain, misalnya merokok.

Kecenderungan lain yang teramati adalah bahwa penebalan arteri sebagai dampak dari sifat pemarah lebih banyak dialami oleh wanita. Umumnya penebalan arteri lebih banyak dialami pria, namun wanita pemarah punya risiko yang sama dengan pria yang menyenangkan.

Penelitian ini melibatkan sedikitnya 5.600 partisipan dari 4 desa di wilayah Sardinia, Italia. Para peneliti mengamati dan membuat perbandingan antara kondisi emosional dan kesehatan para partisipan selama kurun waktu 3 tahun.

Menurut peneliti, pola hubungan antara emosi dengan kesehatan pembuluh darah ini ini berlaku secara umum di seluruh dunia. Beberapa penelitian serupa dengan skala lebih kecil telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang konsisten.

Dr David L Katz, direktur Prevention Research Center at Yale University School of Medicine menanggapi positif penelitian ini. Menurutnya, sifat pemarah merupakan faktor risiko serangan jantung yang bisa disejajarkan dengan hipertensi.

"Perkembangan ilmu psycho-immunology mengungkap bahwa status emosional dapat mempengaruhi kondisi hormonal dan syaraf, yang seluruhnya terkait dengan fungsi kekebalan tubuh," ungkap Dr David seperti dikutip dari Healthday, Rabu (18/8/2010).
 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

 

Jendela

  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
Makan Ikan 3 Kali Seminggu Bisa Kurangi Risiko Stroke

Cambridge, Bila ingin jauh dari risiko stroke, maka rajin-rajinlah makan ikan. Orang yang makan ikan 2 hingga 3 kali seminggu memiliki risiko stroke yang rendah ketimbang yang jarang atau tidak makan ikan sama sekali.


Hal ini berdasarkan kesimpulan dari analisis 15 studi yang dilakukan pada 400.000 orang usia 30-103 tahun dan diikuti 4 hingga 30 tahun kemudian untuk melihat apakah ada partisipan yang menderita stroke.

 

Read More

Takikardia, Membuat Jantung Berdebar Kencang

Takikardia adalah denyut jantung yang lebih cepat daripada denyut jantung normal. Jantung orang dewasa yang sehat biasanya berdetak 60 sampai 100 kali per menit ketika sedang beristirahat.

Denyut jantung dikendalikan oleh sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke seluruh jaringan jantung. Takikardia disebabkan oleh suatu kelainan di dalam jantung sehingga menghasilkan sinyal listrik yang cepat.

Read More

Kenali Tujuh Akibat Pengobatan Hipertensi

SATU dari tiga orang dewasa menderita hipertensi. Data dari Asosiasi Jantung Amerika memaparkan bahwa hanya 61 persen yang menjalani pengobatan dan sekitar dua per tiga dari mereka yang menjalani pengobatan tidak mengontrol hipertensi mereka.

Mengapa ada yang tidak melakukan pengobatan? Menurut kardiolog, ketakutan pasien terhadap komplikasi akibat obat-obat hipertensi merupakan salah satu pemicunya. Berikut beberapa komplikasi yang bisa muncul setelah melakuan pengobatan hipertensi dan cara mengatasinya.

Kelelahan dan pusing
Kelelahan, menurut Dan Jones, MD, dari School of Medicine di the University of Mississippi, merupakan masalah paling umum saat orang mulai menggunakan obat-obat hipertensi. Hal ini, terang Jones, umum terjadi pada orang tua. Jika tekanan darah sudah meningkat untuk beberapa waktu, pada saat obat digunakan dan tekanan darah kembali menurun perlahan, maka untuk sementara waktu terjadi pengurangan aliran darah di beberapa pembuluh darah (termasuk pembuluh darah di otak). Pembuluh darah yang mengerut memerlukan waktu untuk kembali rileks."Penurun aliran darah ini bisa menyebabkan kelelahan dan pusing," tutur Jones, seperti dikutip situs webmd.com.

Pasien yang merasa kelelahan saat menggunakan obat-obatan, lanjut Jones, bisa mengontrol gejala tersebut dengan mengonsumsi obat setiap selang beberapa hari."Jika menghentikan penggunaan, tekanan darah akan naik dan pasien merasa lebih baik. Tapi jika meneruskan siklus ini, mereka tidak akan pernah berhenti merasakan kelelahan, yang umumnya akan menghilang setelah dua hingga enam minggu terapi."


Read More

9 dari 10 Orang Hipertensi Karena Keturunan

Jakarta, Hipertensi atau tekanan darah tinggi memang diketahui merupakan suatu kondisi yang diturunkan. Sebanyak 9 dari 10 orang yang menderita hipertensi terbukti karena faktor keturunan.

"Sekitar 90-95 persen atau 9 dari 10 penderita hipertensi karena faktor keturunan, jadi artinya sudah ada bakat yang diturunkan," ujar Prof DR Dr Jose Roesma, SpPD-KGH dalam acara The 5th Scientific Meeting on Hypertension 2011 di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Sabtu (26/2/2011).

Read More

Kalori yang Dibakar Saat Berjalan Tergantung Tinggi Badan

Jakarta, Berjalan kaki bisa membantu membakar kalori di dalam tubuh. Tapi ternyata jumlah kalori yang dibakar dalam aktivitas berjalan ini tergantung dari tinggi badan yang dimiliki seseorang.

Para peneliti mengungkapkan ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi banyaknya kalori yang dibakar saat seseorang berjalan, yaitu jarak yang ditempuh dan juga mempertimbangkan ukuran tubuh.

Read More

Berita sejenis

Indomedica kemayoran B070 May 5-8 2011

 

Tersedia di Indomedica

Kemayoran booth B070

May 5- 8 2011

pemesanan: 021 98721137

kami hadiri19-22 Okt 2011: