ym pingbox


kilas berita

 

Kenali Tujuh Akibat Pengobatan Hipertensi Cetak halaman ini Kirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Ditulis oleh Ikarowina Tarigan   
Selasa, 07 Juni 2011

SATU dari tiga orang dewasa menderita hipertensi. Data dari Asosiasi Jantung Amerika memaparkan bahwa hanya 61 persen yang menjalani pengobatan dan sekitar dua per tiga dari mereka yang menjalani pengobatan tidak mengontrol hipertensi mereka.

Mengapa ada yang tidak melakukan pengobatan? Menurut kardiolog, ketakutan pasien terhadap komplikasi akibat obat-obat hipertensi merupakan salah satu pemicunya. Berikut beberapa komplikasi yang bisa muncul setelah melakuan pengobatan hipertensi dan cara mengatasinya.

Kelelahan dan pusing
Kelelahan, menurut Dan Jones, MD, dari School of Medicine di the University of Mississippi, merupakan masalah paling umum saat orang mulai menggunakan obat-obat hipertensi. Hal ini, terang Jones, umum terjadi pada orang tua. Jika tekanan darah sudah meningkat untuk beberapa waktu, pada saat obat digunakan dan tekanan darah kembali menurun perlahan, maka untuk sementara waktu terjadi pengurangan aliran darah di beberapa pembuluh darah (termasuk pembuluh darah di otak). Pembuluh darah yang mengerut memerlukan waktu untuk kembali rileks."Penurun aliran darah ini bisa menyebabkan kelelahan dan pusing," tutur Jones, seperti dikutip situs webmd.com.

Pasien yang merasa kelelahan saat menggunakan obat-obatan, lanjut Jones, bisa mengontrol gejala tersebut dengan mengonsumsi obat setiap selang beberapa hari."Jika menghentikan penggunaan, tekanan darah akan naik dan pasien merasa lebih baik. Tapi jika meneruskan siklus ini, mereka tidak akan pernah berhenti merasakan kelelahan, yang umumnya akan menghilang setelah dua hingga enam minggu terapi."


Batuk
ACE inhibitors, terang Thomas Giles, MD, dari Louisiana State University School of Medicine, merupakan kelas obat-obatan yang bisa menyebabkan batuk panjang pada 10 hingga 15 persen pasien."Jangan teruskan obat tersebut," terang Giles. Jika batuk, terang dia, berkonsultasilah dengan dokter untuk mencari obat pengganti yang lebih tepat. ACE inhibitors termasuk Lotensin, Monopril, Prinivil, Zestril, Accupril, Altace, Vasotec, dan Capoten.

Sering buang air kecil
Menggunakan diuretik, terang Giles, akan membuat Anda sering-sering buang air seni. Cobalah mengonsumsi obat tersebut di pagi hari."Saya menganjurkan pasien agar tidak menggunakan diuretik dan minum banyak air sebelum tidur," terang dia. Selain itu, jangan menggunakan diuretik dalam rentang waktu satu jam sebelum bepergian. Ada baiknya menunggu hingga Anda tiba di tempat tujuan. Menurut Giles, salah satu diuretik yang paling umum digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah hydrochlorothiazide.

Retensi cairan
Pada dasarnya, terang Sarah Ray, PharmD, BCPS, juru bicara American Pharmacists Association, setiap jenis obat hipertensi yang bukan diuretik bisa menyebabkan edema atau retensi cairan."Calcium channel blockers seperti amlodipine (dikenal juga dengan Norvasc) dan nifedipine (dikenal juga dengan Procardia) sangat dikenal bisa menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit di kaki," terang Ray. Obat-obatan ini juga bisa memperburuk kondisi gagal jantung atau gangguan jantung lainnya."Kami sudah melihat pasien menemukan adanya gangguan jantung setelah mulai menggunakan calcium channel blocker."

Disfungsi seksual
Laki-laki kemungkinan menghindari pengobatan hipertensi karena takut mengalami impotensi. Setiap jenis obat yang menurunkan tekanan darah, terang Ray, berpotensi menyebabkan impotensi."Hal ini membuat pasien takut. Laki-laki yang mengalami disfungsi seksual sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mencari pilihan lain. Beberapa pasien bisa menggunakan viagra jika hipertensi mereka tidak diikuti oleh gangguan jantung lainnya."

Disfungsi ereksi (DE), terang Jones, kemungkinan disebabkan oleh penyakit pembuluh darah, bukan karena obat-obat hipertensi yang digunakan."Salah satu penyebab munculnya DE adalah karena Anda sudah menderita hipertensi selama bertahun-tahun. DE cenderung timbul tenggelam. Pasien kemungkinan menyalahkan obat-obatan sebagai pemicunya dan berhenti menggunaan obat tersebut. Padahal, penyebab sebenarnya kemungkinan adalah penyakit pembuluh darah akibat hipertensi dan pasien justru tidak menggunakan obat-obatan secara teratur."

Aritmia jantung/detak jantung tidak normal
Diuretik yang seringkali diresepkan untuk menurunkan tekanan darah, terang Giles, bisa mengurangi kadar kalium dalam darah dan memicu aritmia jantung. Jenis obat-obatan lainnya kemungkinan terlalu memperlambat detak jantung Anda. Jika mengalami masalah ini, berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan obat pengganti yang tepat.

Reaksi alergi
Alergi akibat obat hipertensi sangat jarang terjadi tapi sangat berbahaya. Alergi terhadap ACE inhibitors atau angiotensin receptor blockers, terang Jones, bisa menyebabkan pembengkakan berbahaya di wajah dan tenggorokan sehingga menghambat saluran pernafasan."Biasanya ditandai dengan pembengkakan tiba-tiba, diawali di sekitar bibir dan wajah, kadang-kadang diikuti dengan kesulitan bernafas," terang Jones. "Gangguan ini bersifat mematikan. Karena itu, pastikan segera menjalani perawatan di rumah sakit." 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

 

Jendela

  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
Interhash 2012

Interhash merupakan event hash (olahraga lintas alam) terbesar dan diadakan secara internasional. Diikuti oleh kurang lebih 5000 orang hasher dari berbagai negara termasuk seluruh hash club di Indonesia dengan peserta yang rata-rata berumur 50 tahun ke atas.

Pada tahun 2012 ini, diadakan event Interhash di kota Yogyakarta dan berpusat di candi Borobudur. Selama hampir satu minggu, para peserta akan berkumpul di basecamp hotel Rich, Jalan Magelang, Yogyakarta dan mengikuti run di candi Borobudur, Prambanan dll.

more information please visit http://www.interhash2012.com


 

Read More

Stres Lebih Berdampak Buruk Bagi Jantung Perempuan

Jakarta, Stres diketahui bisa berdampak bagi kesehatan seseorang termasuk jantung. Tapi efek stres bagi jantung ini berbeda antara laki-laki dan perempuan, karena perempuan berisiko kena masalah jantung akibat stres.

Studi baru menemukan aliran darah di jantung akan meningkat ketika laki-laki mengalami stres mental, tapi kondisi ini tidak terjadi pada perempuan sehingga membuatnya lebih mungkin memiliki masalah jantung ketika menderita gangguan emosi.

Para peneliti dari Penn State College of Medicine mengukur denyut jantung, tekanan darah serta aliran darah di jantung pada 17 orang dewasa sehat yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Pengukuran dilakukan saat istirahat dan ketika melakukan tes aritmatika selama 3 menit.

Sementara itu untuk meningkatkan kadar stres dari para peserta maka peneliti mendesak peserta untuk bergegas dan memberitahu peneliti manakah jawaban yang tepat dan mana yang salah.

Pada saat istirahat, laki-laki dan perempuan hanya menunjukkan sedikit perbedaan dalam denyut jantung, tekanan darah serta aliran darah jantung. Namun saat stres mengerjakan tugas aritmatika, aliran darah ke jantung meningkat pada laki-laki sedang perempuan tidak.

"Ini yang membuat perempuan lebih rentan terhadap masalah jantung saat berada di bawah tekanan dan cenderung memiliki masalah jantung setelah mengalami peristiwa stres, seperti kehilangan pasangan," ujar pemimpin studi Chester Ray, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (27/4/2012).

Ray menuturkan pengurangan stres adalah bagian yang penting bagi siapa saja, terlepas dari jenis kelaminnya. Namun perempuan lebih ditekankan karena stres yang dialami berpotensi menempatkannya pada risiko lebih besar terkena koroner.

Dalam jumlah yang kecil atau sedikit, stres memang bermanfaat bagi tubuh. Tapi jika stres yang terjadi terus menerus atau berlebihan maka bisa menyebabkan beberapa reaksi di dalam tubuh.

 
(ver/ir)

 

Read More

Makan Ikan 3 Kali Seminggu Bisa Kurangi Risiko Stroke

Cambridge, Bila ingin jauh dari risiko stroke, maka rajin-rajinlah makan ikan. Orang yang makan ikan 2 hingga 3 kali seminggu memiliki risiko stroke yang rendah ketimbang yang jarang atau tidak makan ikan sama sekali.


Hal ini berdasarkan kesimpulan dari analisis 15 studi yang dilakukan pada 400.000 orang usia 30-103 tahun dan diikuti 4 hingga 30 tahun kemudian untuk melihat apakah ada partisipan yang menderita stroke.

 

Read More

Takikardia, Membuat Jantung Berdebar Kencang

Takikardia adalah denyut jantung yang lebih cepat daripada denyut jantung normal. Jantung orang dewasa yang sehat biasanya berdetak 60 sampai 100 kali per menit ketika sedang beristirahat.

Denyut jantung dikendalikan oleh sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke seluruh jaringan jantung. Takikardia disebabkan oleh suatu kelainan di dalam jantung sehingga menghasilkan sinyal listrik yang cepat.

Read More

Kenali Tujuh Akibat Pengobatan Hipertensi

SATU dari tiga orang dewasa menderita hipertensi. Data dari Asosiasi Jantung Amerika memaparkan bahwa hanya 61 persen yang menjalani pengobatan dan sekitar dua per tiga dari mereka yang menjalani pengobatan tidak mengontrol hipertensi mereka.

Mengapa ada yang tidak melakukan pengobatan? Menurut kardiolog, ketakutan pasien terhadap komplikasi akibat obat-obat hipertensi merupakan salah satu pemicunya. Berikut beberapa komplikasi yang bisa muncul setelah melakuan pengobatan hipertensi dan cara mengatasinya.

Kelelahan dan pusing
Kelelahan, menurut Dan Jones, MD, dari School of Medicine di the University of Mississippi, merupakan masalah paling umum saat orang mulai menggunakan obat-obat hipertensi. Hal ini, terang Jones, umum terjadi pada orang tua. Jika tekanan darah sudah meningkat untuk beberapa waktu, pada saat obat digunakan dan tekanan darah kembali menurun perlahan, maka untuk sementara waktu terjadi pengurangan aliran darah di beberapa pembuluh darah (termasuk pembuluh darah di otak). Pembuluh darah yang mengerut memerlukan waktu untuk kembali rileks."Penurun aliran darah ini bisa menyebabkan kelelahan dan pusing," tutur Jones, seperti dikutip situs webmd.com.

Pasien yang merasa kelelahan saat menggunakan obat-obatan, lanjut Jones, bisa mengontrol gejala tersebut dengan mengonsumsi obat setiap selang beberapa hari."Jika menghentikan penggunaan, tekanan darah akan naik dan pasien merasa lebih baik. Tapi jika meneruskan siklus ini, mereka tidak akan pernah berhenti merasakan kelelahan, yang umumnya akan menghilang setelah dua hingga enam minggu terapi."


Read More

Berita sejenis

Visit Us May 22-26, 2012

Hotel Rich Jogjakarta
May 22-27  2012

Interhash 2012