ym pingbox


chat with us:

customer service

nani

adi 

kilas berita

 

Hati-hati, Hipertensi Mengintai Anda Cetak halaman ini Kirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 30 November 2007
Hipertensi seringkali muncul tanpa gejala hingga menimbulkan komplikasi lanjut yang berbahaya. Mengenali faktor risiko, pencegahan penyakit dan strategi pengobatan merupakan kunci mengatasi penyakit ini.

Penyakit yang disebut juga dengan penyakit tekanan darah tinggi ini sering muncul tanpa gejala dan penderitanya tidak merasakan sakit apa-apa. Para dokter menyebutnya sebagai silent disease.

Ketua Umum Hipertensi Indonesia, dr Arieska Ann Soenarta, SpJP, menjelaskan, hipertensi muncul karena adanya gangguan pada aliran darah, misalnya penyempitan akibat kotoran atau pengecilan pembuluh darah karena pengaruh tertentu. Karena itu diperlukan tekanan yang besar agar darah bisa mengalir.

"Untuk bisa mengontrol memang sebaiknya orang yang memiliki darah tinggi harus rajin memeriksakan tekanan darah. Paling tidak sebulan sekali," ujar wanita yang akrab dipanggil dr Ann ini.

Sementara itu ahli ginjal hipertensi, Prof dr Jose Roesma PhD mengatakan, saat ini tren hipertensi sebagian besar dipengaruhi adanya faktor keturunan. Dari 10 orang hipertensi, 90 persennya karena seseorang yang punya bakat. Dan penyakit ini bisa timbul karena ada pemicunya. Misalnya seorang yang gemuk, suka merokok, stres, makan garam yang berlebihan.

"Kita bisa cegah bakat yang sudah ada supaya tidak muncul. Caranya mudah saja, yaitu dengan menghindari faktor pemicu dan mengubah pola hidup. Bila memang tensinya sudah tinggi, maka harus diberi obat penurun tekanan darah tinggi," kata Prof Jose.

Hal senada juga dikatakan Prof Jusuf Misbach dari Departemen Neurologi RSCM. Menurut dia, 90 persen penyakit hipertensi disebabkan karena genetik. Hal ini terjadi adanya trasformasi genetik. Dan tren yang berkembang saat ini banyak ditemui pada usia muda. Menurut data RSCM, 5 persen dari penderita stroke berusia di bawah 40 tahun.

Prof Jusuf bilang, orang yang sudah memiliki bakat sebaiknya rutin memeriksakan tekanan darah dan merubah gaya hidup. Patokan tekanan darah tinggi kalau diukur tekanan sistoliknya lebih besar atau sama dengan 140 mmHg, sedangkan tekanan diastolik lebih atau sama dengan 90mmHg.

Dan perlu diperhatikan bahwa penyakit darah tinggi ini tidak saja dialami pada orang dengan tingkat ekonomi tinggi. Mereka yang pendapatannya rendah bisa mengalami hal yang sama. Terutama di negara berkembang jumlahnya bisa dua kali lipat.

"Orang dengan lower income juga mengalami stres kehidupan, makan seadanya seperti mi instan yang memakai bumbu MSG. Kesehatannya tidak terkontrol dengan baik, tahu-tahu datang ke Puskesmas sudah mengalami hipertensi," kata Prof Jusuf yang berbicara pada pertemuan ilmiah Perhimpunan Hipertensi Indonesia di Hotel Four Season, Kuningan, akhir pekan lalu.

Penderita hipertensi pun semakin meningkat namun untuk pendataan masalah ini di Indonesia belum tertangani dengan baik. Prof Jusuf menyebutkan hanya 50 persen penderita hipertensi yang terdeteksi. Dari jumlah tersebut hanya 50 persen yang berobat secara teratur dan hanya setengahnya yang terkontrol dengan baik. Artinya, dari seluruh penderita hipertensi di Indonesia yang terkontrol dengan baik jumlahnya di bawah 10 persen.

Secara umum hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada hipertensi primer sampai saat ini belum diketahui penyebabnya. Jumlah penderitanya hingga kini mencapai lebih dari 90 persen dari seluruh penderita hipertensi.

Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan adanya penyakit lain, misalnya saja pada gangguan ginjal, penyempitan pembuluh darah terutama ginjal, tumor tertentu atau gangguan hormon. Prof Jose bilang, gangguan tersebut mengakibatkan gangguan aliran darah, akibatnya jantung harus bekerja lebih kuat, sehingga tekanan darah meningkat.

Prof Jose mengingatkan, sebaiknya tetap waspada terhadap hipertensi ringan. Memang penyakit itu tidak mengakibatkan masalah serius dalam waktu dekat. Namun bila dibiarkan saja bisa timbul komplikasi jantung, stroke dan gagal ginjal. dan kerusakan organ biasanya baru terjadi 10-15 tahun kemudian.

"Bagi yang tekanan darahnya masih dalam batas normal atau sedikit tinggi juga tidak  boleh seenaknya. Apalagi yang usianya sudah 50 tahun, banyak yang sudah menderita hipertensi. Padahal sebelumnya mereka memiliki tekanan darah normal," ujar Prof Jose.

Untuk pengobatannya jika masih dalam taraf ringan biasanya dokter akan menganjurkan perubahan gaya hidup. Menghindari garam, lemak dan makanan lain yang bisa mengakibatkan gangguan pembuluh darah. Selain itu berolahraga dan mengurangi stres juga merupakan gaya hidup yang sebaiknya dijalani.

Ada beberapa obat untuk mengatasi hipertensi. Ada yang termasuk golongan diuresis, alpha blocker, beta blocker, ACE inhibitor dan vasodilator. Selain itu ada obat yang langsung ke saraf. Obat hipertensi individual sifatnya, artinya cocok pada satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. (dam/dikutip dari kompas)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

 

Jendela

  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
  • JoomlaWorks AJAX Header Rotator
Interhash 2012

Interhash merupakan event hash (olahraga lintas alam) terbesar dan diadakan secara internasional. Diikuti oleh kurang lebih 5000 orang hasher dari berbagai negara termasuk seluruh hash club di Indonesia dengan peserta yang rata-rata berumur 50 tahun ke atas.

Pada tahun 2012 ini, diadakan event Interhash di kota Yogyakarta dan berpusat di candi Borobudur. Selama hampir satu minggu, para peserta akan berkumpul di basecamp hotel Rich, Jalan Magelang, Yogyakarta dan mengikuti run di candi Borobudur, Prambanan dll.

more information please visit http://www.interhash2012.com


 

Read More

Stres Lebih Berdampak Buruk Bagi Jantung Perempuan

Jakarta, Stres diketahui bisa berdampak bagi kesehatan seseorang termasuk jantung. Tapi efek stres bagi jantung ini berbeda antara laki-laki dan perempuan, karena perempuan berisiko kena masalah jantung akibat stres.

Studi baru menemukan aliran darah di jantung akan meningkat ketika laki-laki mengalami stres mental, tapi kondisi ini tidak terjadi pada perempuan sehingga membuatnya lebih mungkin memiliki masalah jantung ketika menderita gangguan emosi.

Para peneliti dari Penn State College of Medicine mengukur denyut jantung, tekanan darah serta aliran darah di jantung pada 17 orang dewasa sehat yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Pengukuran dilakukan saat istirahat dan ketika melakukan tes aritmatika selama 3 menit.

Sementara itu untuk meningkatkan kadar stres dari para peserta maka peneliti mendesak peserta untuk bergegas dan memberitahu peneliti manakah jawaban yang tepat dan mana yang salah.

Pada saat istirahat, laki-laki dan perempuan hanya menunjukkan sedikit perbedaan dalam denyut jantung, tekanan darah serta aliran darah jantung. Namun saat stres mengerjakan tugas aritmatika, aliran darah ke jantung meningkat pada laki-laki sedang perempuan tidak.

"Ini yang membuat perempuan lebih rentan terhadap masalah jantung saat berada di bawah tekanan dan cenderung memiliki masalah jantung setelah mengalami peristiwa stres, seperti kehilangan pasangan," ujar pemimpin studi Chester Ray, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (27/4/2012).

Ray menuturkan pengurangan stres adalah bagian yang penting bagi siapa saja, terlepas dari jenis kelaminnya. Namun perempuan lebih ditekankan karena stres yang dialami berpotensi menempatkannya pada risiko lebih besar terkena koroner.

Dalam jumlah yang kecil atau sedikit, stres memang bermanfaat bagi tubuh. Tapi jika stres yang terjadi terus menerus atau berlebihan maka bisa menyebabkan beberapa reaksi di dalam tubuh.

 
(ver/ir)

 

Read More

Makan Ikan 3 Kali Seminggu Bisa Kurangi Risiko Stroke

Cambridge, Bila ingin jauh dari risiko stroke, maka rajin-rajinlah makan ikan. Orang yang makan ikan 2 hingga 3 kali seminggu memiliki risiko stroke yang rendah ketimbang yang jarang atau tidak makan ikan sama sekali.


Hal ini berdasarkan kesimpulan dari analisis 15 studi yang dilakukan pada 400.000 orang usia 30-103 tahun dan diikuti 4 hingga 30 tahun kemudian untuk melihat apakah ada partisipan yang menderita stroke.

 

Read More

Takikardia, Membuat Jantung Berdebar Kencang

Takikardia adalah denyut jantung yang lebih cepat daripada denyut jantung normal. Jantung orang dewasa yang sehat biasanya berdetak 60 sampai 100 kali per menit ketika sedang beristirahat.

Denyut jantung dikendalikan oleh sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke seluruh jaringan jantung. Takikardia disebabkan oleh suatu kelainan di dalam jantung sehingga menghasilkan sinyal listrik yang cepat.

Read More

Kenali Tujuh Akibat Pengobatan Hipertensi

SATU dari tiga orang dewasa menderita hipertensi. Data dari Asosiasi Jantung Amerika memaparkan bahwa hanya 61 persen yang menjalani pengobatan dan sekitar dua per tiga dari mereka yang menjalani pengobatan tidak mengontrol hipertensi mereka.

Mengapa ada yang tidak melakukan pengobatan? Menurut kardiolog, ketakutan pasien terhadap komplikasi akibat obat-obat hipertensi merupakan salah satu pemicunya. Berikut beberapa komplikasi yang bisa muncul setelah melakuan pengobatan hipertensi dan cara mengatasinya.

Kelelahan dan pusing
Kelelahan, menurut Dan Jones, MD, dari School of Medicine di the University of Mississippi, merupakan masalah paling umum saat orang mulai menggunakan obat-obat hipertensi. Hal ini, terang Jones, umum terjadi pada orang tua. Jika tekanan darah sudah meningkat untuk beberapa waktu, pada saat obat digunakan dan tekanan darah kembali menurun perlahan, maka untuk sementara waktu terjadi pengurangan aliran darah di beberapa pembuluh darah (termasuk pembuluh darah di otak). Pembuluh darah yang mengerut memerlukan waktu untuk kembali rileks."Penurun aliran darah ini bisa menyebabkan kelelahan dan pusing," tutur Jones, seperti dikutip situs webmd.com.

Pasien yang merasa kelelahan saat menggunakan obat-obatan, lanjut Jones, bisa mengontrol gejala tersebut dengan mengonsumsi obat setiap selang beberapa hari."Jika menghentikan penggunaan, tekanan darah akan naik dan pasien merasa lebih baik. Tapi jika meneruskan siklus ini, mereka tidak akan pernah berhenti merasakan kelelahan, yang umumnya akan menghilang setelah dua hingga enam minggu terapi."


Read More

Visit Us May 22-26, 2012

Hotel Rich Jogjakarta
May 22-27  2012

Interhash 2012