Penyakit yang disebut juga dengan penyakit tekanan darah tinggi ini
sering muncul tanpa gejala dan penderitanya tidak merasakan sakit
apa-apa. Para dokter menyebutnya sebagai silent disease.
Ketua Umum Hipertensi Indonesia, dr Arieska Ann Soenarta, SpJP,
menjelaskan, hipertensi muncul karena adanya gangguan pada aliran
darah, misalnya penyempitan akibat kotoran atau pengecilan pembuluh
darah karena pengaruh tertentu. Karena itu diperlukan tekanan yang
besar agar darah bisa mengalir.
"Untuk bisa mengontrol memang sebaiknya orang yang memiliki darah
tinggi harus rajin memeriksakan tekanan darah. Paling tidak sebulan
sekali," ujar wanita yang akrab dipanggil dr Ann ini.
Sementara itu ahli ginjal hipertensi, Prof dr Jose Roesma PhD
mengatakan, saat ini tren hipertensi sebagian besar dipengaruhi adanya
faktor keturunan. Dari 10 orang hipertensi, 90 persennya karena
seseorang yang punya bakat. Dan penyakit ini bisa timbul karena ada
pemicunya. Misalnya seorang yang gemuk, suka merokok, stres, makan
garam yang berlebihan.
"Kita bisa cegah bakat yang sudah ada supaya tidak muncul. Caranya
mudah saja, yaitu dengan menghindari faktor pemicu dan mengubah pola
hidup. Bila memang tensinya sudah tinggi, maka harus diberi obat
penurun tekanan darah tinggi," kata Prof Jose.
Hal senada juga dikatakan Prof Jusuf Misbach dari Departemen
Neurologi RSCM. Menurut dia, 90 persen penyakit hipertensi disebabkan
karena genetik. Hal ini terjadi adanya trasformasi genetik. Dan tren
yang berkembang saat ini banyak ditemui pada usia muda. Menurut data
RSCM, 5 persen dari penderita stroke berusia di bawah 40 tahun.
Prof Jusuf bilang, orang yang sudah memiliki bakat sebaiknya rutin
memeriksakan tekanan darah dan merubah gaya hidup. Patokan tekanan
darah tinggi kalau diukur tekanan sistoliknya lebih besar atau sama
dengan 140 mmHg, sedangkan tekanan diastolik lebih atau sama dengan
90mmHg.
Dan perlu diperhatikan bahwa penyakit darah tinggi ini tidak saja
dialami pada orang dengan tingkat ekonomi tinggi. Mereka yang
pendapatannya rendah bisa mengalami hal yang sama. Terutama di negara
berkembang jumlahnya bisa dua kali lipat.
"Orang dengan lower income juga mengalami stres kehidupan,
makan seadanya seperti mi instan yang memakai bumbu MSG. Kesehatannya
tidak terkontrol dengan baik, tahu-tahu datang ke Puskesmas sudah
mengalami hipertensi," kata Prof Jusuf yang berbicara pada pertemuan
ilmiah Perhimpunan Hipertensi Indonesia di Hotel Four Season, Kuningan,
akhir pekan lalu.
Penderita hipertensi pun semakin meningkat namun untuk pendataan
masalah ini di Indonesia belum tertangani dengan baik. Prof Jusuf
menyebutkan hanya 50 persen penderita hipertensi yang terdeteksi. Dari
jumlah tersebut hanya 50 persen yang berobat secara teratur dan hanya
setengahnya yang terkontrol dengan baik. Artinya, dari seluruh
penderita hipertensi di Indonesia yang terkontrol dengan baik jumlahnya
di bawah 10 persen.
Secara umum hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu hipertensi primer
dan hipertensi sekunder. Pada hipertensi primer sampai saat ini belum
diketahui penyebabnya. Jumlah penderitanya hingga kini mencapai lebih
dari 90 persen dari seluruh penderita hipertensi.
Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan adanya penyakit lain,
misalnya saja pada gangguan ginjal, penyempitan pembuluh darah terutama
ginjal, tumor tertentu atau gangguan hormon. Prof Jose bilang, gangguan
tersebut mengakibatkan gangguan aliran darah, akibatnya jantung harus
bekerja lebih kuat, sehingga tekanan darah meningkat.
Prof Jose mengingatkan, sebaiknya tetap waspada terhadap hipertensi
ringan. Memang penyakit itu tidak mengakibatkan masalah serius dalam
waktu dekat. Namun bila dibiarkan saja bisa timbul komplikasi jantung,
stroke dan gagal ginjal. dan kerusakan organ biasanya baru terjadi
10-15 tahun kemudian.
"Bagi yang tekanan darahnya masih dalam batas normal atau sedikit
tinggi juga tidak boleh seenaknya. Apalagi yang usianya sudah 50
tahun, banyak yang sudah menderita hipertensi. Padahal sebelumnya
mereka memiliki tekanan darah normal," ujar Prof Jose.
Untuk pengobatannya jika masih dalam taraf ringan biasanya dokter
akan menganjurkan perubahan gaya hidup. Menghindari garam, lemak dan
makanan lain yang bisa mengakibatkan gangguan pembuluh darah. Selain
itu berolahraga dan mengurangi stres juga merupakan gaya hidup yang
sebaiknya dijalani.
Ada beberapa obat untuk mengatasi hipertensi. Ada yang termasuk golongan diuresis, alpha blocker, beta blocker, ACE inhibitor dan vasodilator.
Selain itu ada obat yang langsung ke saraf. Obat hipertensi individual
sifatnya, artinya cocok pada satu orang belum tentu cocok untuk orang
lain. (dam/dikutip dari kompas)