|
Stroke bisa menyerang siapa saja. Bahkan mereka yang masih dalam usia produktif bisa terserang stroke.
Meski demikian, mereka yang terserang stroke bisa ditolong dalam
waktu tiga jam sejak serangan terjadi. Terutama stroke yang disebabkan
tersumbatnya saluran pembuluh darah. Jika pasien dilarikan ke rumah
sakit kurang dari tiga jam setelah serangan, dokter bisa langsung
mengeluarkan emboli atau sumbatan. Begitu emboli dikeluarkan dengan
cara disedot, aliran darah ke otak bisa kembali lancar.
“Ibarat pipa air yang tersumbat, begitu penyumbatnya dibersihkan,
air akan mengalir lancar,” kata Prof dr Margono Imam Sjahrir SpS(K),
dokter spesialis syaraf dari RSUD dr Soetomo, Selasa (22/12).
Menurut Margono, siapa pun tidak bisa menghindari serangan stroke
jika sudah terjadi penyumbatan. Hanya saja, dampak yang diakibatkan
bisa sedikit diminimalisir apabila mereka yang terserang stroke segera
ditangani. Kerusakan jaringan otak yang berakibat kelumpuhan sebagian
atau seluruh bagian tubuh juga bisa dikurangi.
“Kuncinya mewaspadai gejala serangan stroke, seperti tiba-tiba cadel atau ada bagian tubuh yang mati rasa,” katanya.
Gejala serangan stroke pada masing-masing orang berbeda. Ada yang
sifatnya ringan, seperti bagian tubuh mati rasa atau tidak bisa
berbicara dengan jelas karena cadel. Ada juga yang langsung berat,
misalnya tubuhnya mati separo. Margono menjelaskan, jika sudah
mengalami gejala semacam itu, pasien sebaiknya langsung dilarikan ke
rumah sakit. Kewaspadaan mereka yang berada di sekitar orang yang
terserang stroke juga diperlukan. Mereka juga harus bisa memahami dan
mengenali gejala stroke guna mengantisipasi keadaan yang lebih gawat.
Gejala stroke kadang sulit dikenali. Tapi jika terjadi hal-hal yang
mencurigakan, orang di sekitar korban stroke bisa menanyakan tiga hal.
Pertama, minta orang tersebut tersenyum. Margono mengatakan, jika
orang itu terserang stroke, bibirnya mungkin tidak bisa tersenyum
lebar. Pasalnya, mulut bisa mencong ke salah satu sisi akibat serangan
stroke. Kalau sudah mencong, orang biasanya susah tersenyum.
Kedua, minta orang tersebut mengangkat kedua tangannya. Serangan
stroke biasanya menyebabkan kelumpuhan separo badan. Imbasnya, ia hanya
bisa mengangkat salah satu bagian tubuhnya. Jika ini terjadi, orang
tersebut bisa jadi mengalami serangan stroke.
Ketiga, minta orang tersebut mengucapkan sebuah kalimat sederhana
yang masuk akal. Misalnya, hari ini cerah. Jika orang tersebut tak bisa
melakukannya, ia sebaiknya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat
untuk mendapatkan pertolongan pertama. “Ketidakmampuan berbicara bisa
disebabkan salah satu syaraf di lidah tidak berfungsi akibat serangan
stroke,” kata Margono.
Dominasi penderita stroke memang masih dari kalangan lansia.
Pasalnya, kebanyakan kaum lansia mengalami penyempitan pembuluh darah
karena faktor usia. Jika penumpukan makin banyak, darah tidak bisa
mengalir lancar. Di sinilah serangan stroke terjadi.
Jika sudah pernah mengalami serangan stroke, seseorang harus
benar-benar menjaga kondisinya. Pasalnya, serangan kedua bisa berakibat
fatal. Mulai dari kelumpuhan seluruh bagian tubuh hingga kematian.
Kondisi kesehatan bisa dijaga dengan cara mengonsumsi makanan yang
sehat. Selain itu, minum obat secara teratur untuk mencegah terjadinya
penggumpalan pada aliran darah.
“Ibarat sampah yang menumpuk, gumpalan itu harus dipecah dengan
menggunakan obat agar bisa mengalir melewati pembuluh darah,” kata
Margono.
Ditegaskan, stroke bukan lagi milik kaum lansia. Penderita stroke
kini bergeser ke usia produktif. Penyebabnya karena gaya hidup tidak
sehat. “Mereka yang memiliki kebiasaan merokok atau minum alkohol
sangat berpeluang mengalami serangan stroke di usia muda,” kata
Margono.
|